Tuesday, January 20, 2026

Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik

Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik

 

Gambar 428 Diagram Alur splicing dalam Komunikasi Optik


Berikut penjelasan Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik yang disusun ringkas, sistematis, dan mudah dipahami (cocok untuk materi SMK / dasar jaringan):

1. Pengertian Splicing Fiber Optic

Splicing adalah proses menyambungkan dua ujung kabel fiber optik secara permanen sehingga cahaya (sinyal optik) dapat diteruskan dengan redaman (loss) sekecil mungkin.

Berbeda dengan connector, splicing tidak bisa dilepas-pasang dan umumnya digunakan pada:

  • Backbone jaringan
  • Joint closure
  • Perpanjangan kabel fiber optik

 

2. Tujuan Splicing

Tujuan utama splicing dalam komunikasi optik adalah:

  • Menghubungkan kabel fiber optik
  • Memperpanjang jalur transmisi
  • Memperbaiki kabel fiber yang putus
  • Menjaga kualitas sinyal optik
  • Mengurangi redaman dan refleksi

 

3. Prinsip Kerja Splicing

Splicing bekerja dengan prinsip:

a. Menyelaraskan core (inti) fiber optik secara presisi

b. Menggabungkan kedua ujung fiber sehingga:

  • Cahaya tetap merambat lurus
  • Pantulan (reflection) minimal
  • Kehilangan daya (loss) sangat kecil

Semakin presisi penyambungan core, semakin kecil nilai insertion loss.

 

4. Jenis-Jenis Splicing Fiber Optic

A. Fusion Splicing (Splicing Peleburan)

Merupakan metode paling umum dan paling baik kualitasnya.

Ciri-ciri:

  • Menggunakan Fusion Splicer
  • Ujung fiber dilebur dengan arc listrik
  • Loss sangat kecil (± 0,01–0,05 dB)
  • Sambungan kuat dan tahan lama

Digunakan untuk:

  • Backbone FO
  • Jaringan ISP
  • Jaringan jarak jauh

 

B. Mechanical Splicing (Splicing Mekanik)

Metode penyambungan tanpa peleburan.

Ciri-ciri:

  • Menggunakan alat mekanik dan gel optik
  • Lebih cepat dan murah
  • Loss lebih besar (± 0,2–0,5 dB)

Digunakan untuk:

  • Perbaikan darurat
  • Instalasi sementara
  • Latihan/praktikum

 

5. Komponen yang Terlibat dalam Splicing

Beberapa komponen penting dalam proses splicing:

  • Core : inti penghantar cahaya
  • Cladding : pembungkus core
  • Coating : pelindung fiber
  • Fusion Splicer
  • Fiber Cleaver
  • Stripper Fiber
  • Splice Protector (Sleeve)

 

6. Parameter Kualitas Splicing

A. Insertion Loss

Kehilangan daya akibat sambungan.

  • Standar baik: ≤ 0,1 dB
  • Semakin kecil, semakin baik

B. Return Loss

Pantulan cahaya ke arah sumber.

  • Nilai besar (dB tinggi) menandakan pantulan kecil

 

7. Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Splicing

a. Kebersihan ujung fiber
b. Ketepatan pemotongan (cleaving)
c. Keselarasan core
d. Jenis fiber (SM/MM)
e. Kualitas alat splicer
f. Keterampilan teknisi

 

8. Peran Splicing dalam Sistem Komunikasi Optik

Splicing sangat penting karena:

  • Menentukan keandalan jaringan
  • Mempengaruhi jarak transmisi
  • Berpengaruh langsung pada kecepatan dan kualitas data
  • Mengurangi gangguan dan error sinyal

 

9. Contoh Penerapan Splicing

  • Jaringan FTTH (Fiber To The Home)
  • Jaringan Metro Ethernet
  • Backbone antar gedung/kota
  • Sistem komunikasi data dan internet

 

Kesimpulan

Splicing adalah proses vital dalam komunikasi optik karena berfungsi menyambungkan serat optik secara permanen dengan redaman minimal agar transmisi data tetap optimal dan stabil.


Terminasi Konektor Fiber Optics

 Langkah - Langkah Pembuatan Kabel Fiber Optik


1. Siapkan alat - alat seperti di bawah ini:






Nama Alat:

1. Fiber Stripper (untuk coating & buffer)
2. Fiber Cleaver (pemotong presisi)
3. Crimp Tool FO
4. Optical Power Meter & Light Source (untuk tes)
5. Visual Fault Locator (VFL)
6. Cable Cutter


Nama Bahan:
1.Kabel Fiber Optic
2. Fast Connector FO
3. Alkohol Isopropyl
4. Tisu Kering


II. Langkah-langkah 
1. Potong kabel Fiber Optic ke Cable Cutter untuk mengukur panjangnya sesuai keinginan


2.Belah tengah kabel FO antara 2 kabel yang kecil dan 1 kabel yang besar (kawat), hingga kabel terbelah 2.




3.Tarik bagian yang telah terbelah sesuai panjang yang diinginkan, kemudian kupas luaran kabel FO dengan panjang sekitar 3.5 CM

4.Kupas bagian serat kaca hingga tersisa kabel yang bening




5. Bersihkan kabel menggunakan tisu yang diberi alkohol


6. Ukur ukuran kabel sesuai Fast Connector dan masukkan ke dalam Fast Connector. Namun, perlu diperhatikan saat ingin mengunci kabel di Fast Connector sisakan sedikit lipatan didalamnya agar ketika dikencangkan kabel tidak kendor.



7. Cek sinyal ke Connector tersebut, jika sinar berhasil tembus berarti pemasangan telah benar.


8. Ulangi langkah nomor 1-7 ke ujung kabel yang satunya, lalu cek apakah kedua kabel berhasil meneruskan sinar dari laser.


9. Cek tegangan kabel ke Optical Power Meter di salah satu ujung kabel dan Light Source di ujung satunya juga minimal harus -40


Hasil pengukuran menggunakan OPM menunjukkan daya optik sebesar -23,55 dBm pada panjang gelombang 1310 nm. karena nilai tersebut masih di atas batas minimal -40 dBm, maka kondisi kabel fiber optik dinyatakan baik dan layak digunakan.

Tuesday, November 25, 2025

Subnet Mask Kelompok 4

 

Subnet Mask Kelompok 4

 Kelompok 4 : 

1. Arjuna Satria Prada M. (05)

2. Azzula Syakira (07)

3. Hany Nur Ristiawati (16)

4. Ismi Elvita Khairunnisa (19)

5. Jessica Cherlly Marcellina (20)



/ 27 pada blok ke IV


192.168.1.0  /27

11111111.11111111.11111111.11100000

255     .    255     .    255     .    224 


1. Jumlah subnet = 2^3

                            = 8


2. Jumlah host = 2^5

                        = 32 - 2

                        = 30


3. Blok subnet = 256 - 224

                        = 32


Berarti total ada 8 subnet dimulai dari 0, 32, 64, 96, 128, 160, 192, 224



I    192.168.1.0  -  192.168.1.31

II  192.168.1.32  -  192.168.1.63

III   192.168.1.64  -  192.168.1.95

IV   192.168.1.96  -  192.168.1.127



Cara mengerjakan : 

IV  192.168.1.96  -  192.168.1.127

        192.168.1.96      :  Subnet

        192.168.1.97      :  Host pertama

        192.168.1.126    :  Host terakhir

        192.168.1.127    :  Broadcast

Memahami prinsip kerja dan teknologi fiber optic.

 




1. Gambaran umum singkat

Fiber optic mentransmisikan informasi dengan pulsa cahaya yang merambat melalui inti (core) kaca atau plastik. Karena memakai cahaya, sistem ini menawarkan bandwidth sangat besar, latensi rendah, dan imun terhadap gangguan elektromagnetik.


2. Prinsip fisika dasar — Total Internal Reflection

  • Cahaya akan tetap dipandu dalam inti serat karena indeks bias inti (core) lebih tinggi daripada cladding.

  • Jika sudut datang relatif terhadap batas core–cladding lebih besar dari kritikal angle, maka cahaya dipantulkan penuh kembali ke dalam core — itulah total internal reflection.

  • Kondisi ini memungkinkan pulsa cahaya merambat jauh dengan sedikit keluar dari inti.


3. Mode transmisi — single-mode vs multi-mode

  • Single-mode (SMF): core kecil (~8–10 µm). Hanya satu mode (jalur gelombang) yang dominan → sangat sedikit modal dispersion → cocok jarak jauh dan kecepatan tinggi.

  • Multi-mode (MMF): core besar (50 atau 62.5 µm). Banyak mode cahaya merambat → terjadi modal dispersion (pulses menyebar) → membatasi jarak/kecepatan. MMF murah untuk jarak pendek.


4. Penyebab pemburukan sinyal (loss & distortion)

  1. Attenuation (redaman) — penurunan daya cahaya per satuan panjang (dB/km). Disebabkan oleh absorpsi material dan scattering (Rayleigh scattering pada panjang gelombang pendek).

  2. Dispersion (dispersi) — pelebaran pulsa cahaya sehingga simbol dapat saling tumpang tindih:

    • Modal dispersion (MMF) — perbedaan waktu tempuh antar mode.

    • Chromatic dispersion (SMF & MMF) — komponen spektrum cahaya merambat berbeda kecepatan.

    • Polarization mode dispersion (PMD) — perbedaan antar polarisasi (penting di kecepatan sangat tinggi).

  3. Connector & splice loss — kehilangan di konektor atau sambungan (disebabkan penyelarasan buruk, kotoran, permukaan tidak rata).

  4. Return loss / Fresnel reflection — pantulan balik pada ujung serat atau konektor yang dapat mengganggu pemancar.


5. Komponen sistem & cara kerjanya

  1. Transmitter

    • Mengubah sinyal listrik menjadi pulsa cahaya.

    • Perangkat: LED (umumnya MMF, jarak pendek) atau laser diode / DFB / VCSEL (SMF atau MMF berkecepatan tinggi).

  2. Kabel serat (fiber)

    • Struktur: core, cladding, buffer/coating, strength members, outer jacket.

    • Tipe pemasangan: loose-tube (outdoor), tight-buffered (indoor), armored, aerial, direct-burial.

  3. Connector & Adapter

    • Standard: LC, SC, ST, FC, MPO/MTP. Kebersihan dan alignment kritis.

  4. Splice

    • Fusion splice (melelehkan ujung) — loss rendah, andal.

    • Mechanical splice — mudah, sedikit lebih loss.

  5. Receiver

    • Photodiode (PIN atau APD) mengubah cahaya kembali menjadi sinyal listrik. APD lebih sensitif tetapi memerlukan bias lebih tinggi.

  6. Perangkat aktif & pasif tambahan

    • Optical amplifiers (EDFA, Raman) — menguatkan sinyal optik tanpa konversi ke listrik.

    • WDM (Wavelength Division Multiplexing) — gabungkan beberapa panjang gelombang pada satu serat (CWDM, DWDM).

    • Mux/Demux, OADM, ROADMs — untuk routing channel optik.

    • PON (Passive Optical Network): OLT → splitter pasif → ONT (FTTx).


6. Modulation & Multiplexing (mengisi kapasitas serat)

  1. Modulasi sederhana: on-off keying (OOK), NRZ, RZ — memvariasikan intensitas/format pulsa.

  2. Modulasi lanjutan: QPSK, QAM, PSK — digunakan dalam coherent optics untuk efisiensi spektral lebih tinggi.

  3. WDM (Wavelength Division Multiplexing)

    • CWDM (coarse) — kanal lebih jarang → murah, jangkauan metro.

    • DWDM (dense) — kanal rapat → kapasitas sangat besar (puluhan–ratusan channel).

  4. Space Division Multiplexing (SDM) — menggunakan banyak core atau banyak mode untuk meningkatkan kapasitas (research/advanced).


7. Amplifikasi optik & deteksi koheren

  • EDFA (Erbium-Doped Fiber Amplifier): populer di 1550 nm untuk long-haul; memperkuat sinyal optik langsung.

  • Raman amplifier: memanfaatkan efek Raman pada serat — dapat dipakai bersama EDFA.

  • Coherent detection: teknik di mana sinyal optik dikombinasikan dengan local oscillator lalu dideteksi secara koheren → memungkinkan modulasi fase/kompleks (QPSK, QAM) dan kompensasi dispersion digital pada receiver. Penting untuk kapasitas tinggi dan jarak jauh.


8. Access networks: PON & FTTH

  • PON (Passive Optical Network): satu port OLT dibagi secara pasif via splitter ke banyak pelanggan (ONT). Varian: EPON, GPON, XGS-PON, NG-PON2.

  • Kelebihan: efisien biaya di area berpenduduk, tanpa perangkat aktif di jalur distribusi.

  • Perhatikan: pembagian bandwidth dan perencanaan split ratio (1:16, 1:32, 1:64) berpengaruh pada performa.


9. Pengujian & monitoring

  • OTDR (Optical Time Domain Reflectometer): mengukur profil serat, lokasi splice/break, loss segment.

  • Power meter + light source: pengukuran loss end-to-end untuk verifikasi link.

  • VFL (Visual Fault Locator): laser visible untuk menemukan break atau bend dekat.

  • In-line monitoring & performance counters: BER, SNR, Rx power, per-channel power (pada WDM).


10. Perhitungan dasar — link budget (konsep)

Link budget memastikan sinyal di receiver cukup kuat:

Komponen:

  • P_tx = daya output transmitter (dBm)

  • L_fiber = attenuasi serat (dB/km) × panjang (km)

  • L_connector = total loss konektor & splice (dB)

  • P_rx = daya di receiver = P_tx - L_fiber - L_connector - margin

  • Receiver sensitivity = level minimum yang masih bisa mendeteksi (dBm)
    Syarat: P_rx ≥ receiver sensitivity

Contoh (konsep saja): jika P_tx = 0 dBm, receiver sensitivity = -28 dBm, connector loss = 2 dB, attenuasi = 0.35 dB/km, margin operasional = 3 dB → jarak ≈ (0 - (-28) - 2 - 3) / 0.35 ≈ 65 km (ilustrasi sederhana; angka dapat bervariasi menurut perangkat).


11. Keamanan & keselamatan kerja

  • Jangan melihat langsung ke ujung kabel yang aktif — laser tidak terlihat tetap berbahaya untuk mata.

  • Tangani serat sisa (fragmen kaca) dengan sarung tangan; buang dengan cara aman.

  • Gunakan goggles saat splicing/cleaving bila perlu.

  • Ikuti prosedur keselamatan saat bekerja di duct/tiang/lingkungan listrik.


12. Keunggulan & keterbatasan

Keunggulan

  • Bandwidth tinggi, latency rendah, imun EMI, jangkauan jauh, bobot ringan.

Keterbatasan

  • Biaya awal (perangkat, splicing), kebutuhan teknisi terlatih, serat rapuh terhadap tekukan ekstrim, alat pengukuran relatif mahal.


13. Tren & teknologi masa kini

  • Coherent optical systems untuk kapasitas tinggi (400G, 800G dan lebih).

  • Silicon photonics: integrasi komponen fotonik di chip silikon → mengurangi biaya modul optik.

  • Space Division Multiplexing (SDM): multi-core fiber / multi-mode advanced untuk skala kapasitas.

  • Automated/programmable optical networks (SDN-controlled optical layer & ROADM) untuk manajemen dinamis.

  • Peningkatan PON: XGS-PON, NG-PON2 untuk simetri up/down lebih tinggi.


14. Diagram sederhana (alur dari sinyal listrik → optik → listrik)

[ Perangkat Elektrik ] --elektrik--> [ Transmitter (laser/LED) ] → Pulsa cahaya → [ Fiber: core/cladding (splicing, WDM, amplifier) ] → Pulsa cahaya → [ Receiver (photodiode) ] --listrik--> [ Perangkat Elektrik ]


15. Rekomendasi praktis singkat

  • Untuk backbone/antara gedung → pakai Single-Mode OS2 + modul SFP/SFP+ SM pada panjang gelombang yang cocok (1310/1550 nm).

  • Untuk LAN/data center internal (jarak pendek) → pakai OM3/OM4 MMF + transceiver MM.

  • Selalu rencanakan link budget, dokumentasi kabel, label, dan simpan cadangan serat.

  • Lakukan pengujian end-to-end (power meter) dan OTDR untuk verifikasi setelah instalasi.

Memilih kabel fiber optic sesuai kebutuhan.

 




Memilih Kabel Fiber Optic Sesuai Kebutuhan

Pemilihan kabel fiber optic tidak bisa sembarangan. Kita harus menyesuaikan jenis kabel, jarak, kecepatan, teknologi perangkat, sampai lingkungan pemasangan. Berikut adalah panduan lengkap yang dapat dijadikan acuan.


🟩 1. Tentukan Kebutuhan Berdasarkan Jarak (Distance)

a. Single-Mode Fiber (SMF)

  • Cocok untuk jarak jauh: 2 km – 80 km (bahkan ratusan km).

  • Menggunakan laser sebagai sumber cahaya.

  • Core kecil: 8–10 µm.

  • Loss sangat rendah → sinyal stabil.

  • Dipakai untuk:

    • ISP/backbone

    • Gedung ke gedung

    • Metro Ethernet

    • Data center antar lokasi

b. Multi-Mode Fiber (MMF)

  • Cocok untuk jarak pendek: 10 m – 550 m.

  • Menggunakan LED sebagai pemancar.

  • Core lebih besar: 50–62.5 µm.

  • Lebih murah untuk jarak pendek.

  • Dipakai untuk:

    • Jaringan LAN

    • Ruangan ke ruangan

    • Rack Data Center internal


🟩 2. Tentukan Kebutuhan Berdasarkan Kecepatan (Bandwidth)

Setiap jenis fiber mendukung kecepatan yang berbeda.

Single-Mode (OS1/OS2)

TipeKecepatanJarak
OS11G – 10G10 km
OS210G – 100G+sampai 200 km

Multi-Mode (OM1–OM5)

TipeWarna KabelCoreKecepatanJarak Maks
OM1Orange62.5 µm1G275 m
OM2Orange50 µm1G550 m
OM3Aqua50 µm10G300 m
OM4Aqua50 µm40–100G150 m
OM5Lime50 µm100G – 400G (SWDM)150 m


🟩 3. Tentukan Lingkungan Pemasangan (Outdoor / Indoor)

Indoor Fiber

  • Lebih lentur

  • Tidak tahan air / UV

  • Digunakan dalam gedung, kantor, data center

Outdoor Fiber

  • Tahan air dan UV

  • Ada armored (berpelindung baja) untuk daerah berisiko

  • Digunakan untuk:

    • Tiang listrik

    • Tanah

    • Outdoor–to–indoor

Jenis Pelindung Outdoor

TipeKeterangan
ArmoredAda pelindung besi → aman dari gigitan tikus
Loose TubeAda gel pelindung → anti air
Aerial (ADSS)Untuk ditarik di tiang listrik


🟩 4. Sesuaikan Dengan Jenis Konektor

Konektor fiber berbeda-beda dan harus cocok dengan perangkat:

KonektorBentukKeterangan
LCkecil (mini)paling sering di switch modern
SCbesarumum pada ODF
STbulat, twistjarang digunakan
MPO/MTPmulti-coreuntuk 40G/100G/400G


🟩 5. Pertimbangkan Budget & Perangkat (Transceiver/SFP)

Fiber optic harus cocok dengan modul SFP/SFP+.

Contoh:

  • Jika modem/switch menggunakan SFP Single Mode 10G (1310 nm)
    → gunakan kabel Single Mode OS2.

  • Jika menggunakan SFP Multi Mode 850 nm
    → gunakan kabel OM3 / OM4.


🟩 6. Rekomendasi Pemilihan (Panduan Cepat)

Jarak < 100 m

Gunakan: MMF OM3/OM4 + SFP 10G MM (850 nm)

Jarak 100 m – 500 m

Gunakan: OM3/OM4
Untuk 1G/10G.

Jarak > 1 km

Wajib: Single Mode OS2

Antar gedung / backbone

Single Mode + SFP 1310/1550 nm

Dalam ruangan kantor

MMF OM2/OM3

Memahami jenis-jenis kabel fiber optic.

 



Memahami Jenis-Jenis Kabel Fiber Optic (Penjelasan Lengkap)

Kabel fiber optic adalah media transmisi berbahan kaca atau plastik yang membawa sinyal cahaya. Setiap jenis kabel memiliki struktur, fungsi, dan penggunaan yang berbeda tergantung lingkungan instalasinya (indoor, outdoor, underground, aerial, backbone, FTTH, dsb).

Secara umum, pembagian jenis kabel fiber optic dilihat dari:

  1. Jenis serat (single-mode / multi-mode)

  2. Struktur kabel (loose tube / tight buffered)

  3. Lingkungan pemasangan (indoor / outdoor / duct / direct burial / aerial)

  4. Konfigurasi serat (simplex / duplex / multi-core)

Mari kita bahas satu per satu secara rinci.


1. Berdasarkan Jenis Serat

A. Single-Mode Fiber (SMF)

  • Core: 8–10 µm

  • Warna jaket biasanya kuning

  • Menggunakan laser diode

  • Dibuat untuk jarak jauh (hingga ratusan km)

  • Kecepatan: 1G, 10G, 40G, 100G, 400G, dst

  • Loss sangat kecil (±0.2 dB/km)

Aplikasi: backbone ISP, metro, long-haul, FTTH (PON), data center jarak jauh.


B. Multi-Mode Fiber (MMF)

  • Core: 50 µm atau 62.5 µm

  • Warna jaket: oranye / aqua

  • Menggunakan LED atau VCSEL

  • Cocok untuk jarak pendek (< 550 meter)

  • Bandwidth terbatas karena modal dispersion

Jenis MMF modern:

  • OM1 → 62.5 µm (lama)

  • OM2 → 50 µm (LAN)

  • OM3 → 50 µm, mendukung 10G

  • OM4 → 50 µm, mendukung 40G/100G

  • OM5 → mendukung SWDM (wideband)

Aplikasi: LAN, kampus, data center lokal.


2. Berdasarkan Struktur Kabel

A. Loose Tube Fiber Cable

Serat berada dalam tabung longgar (loose tube) berisi gel atau dry core.

Ciri:

  • Tahan air, panas, dan lingkungan ekstrem

  • Biasanya untuk outdoor

Keuntungan:

  • Proteksi tinggi terhadap kelembapan

  • Ideal untuk jarak jauh dan area luar ruangan

Aplikasi: jaringan backbone, duct, underground.


B. Tight Buffered Fiber Cable

Serat diselimuti buffer ketat tanpa tabung longgar.

Ciri:

  • Mudah terminasi

  • Lentur dan cocok indoor

  • Tidak ada gel sehingga bersih saat pengerjaan

Aplikasi: gedung, riser, patch cord, peralatan rack.


3. Berdasarkan Lingkungan Pemasangan

A. Indoor Fiber Cable

Termasuk:

  • Simplex

  • Duplex

  • Riser cable

  • Plenum cable

  • Breakout cable

Ciri:

  • Lentur

  • Tidak tahan cuaca

  • Mudah diterminasi

Aplikasi: perangkat aktif, rack server, data center.


B. Outdoor Fiber Cable

Dibuat lebih kuat karena lingkungan luar lebih ekstrem.

1) Duct Cable

Dipasang di dalam pipa/duct.

Ciri:

  • Tidak perlu proteksi tambahan

  • Biasanya loose tube

2) Direct Burial Cable

Untuk ditanam langsung tanpa pipa.

Ciri:

  • Armored (ada lapisan baja)

  • Tahan gigitan hewan, tekanan tanah

3) Aerial Cable

Dipakai untuk jaringan udara (tiang listrik/telepon).

Jenis aerial:

  • ADSS (All-Dielectric Self-Supporting)
    → tidak mengandung logam, aman dari induksi listrik

  • Figure-8 Cable
    → memiliki kabel messenger baja


4. Berdasarkan Jumlah Inti Serat

A. Simplex

  • Hanya 1 serat

  • Digunakan untuk koneksi satu arah atau tunggal

  • Contoh: sensor optik, perangkat media converter.

B. Duplex

  • 2 serat dalam satu kabel

  • 1 serat transmit (Tx) + 1 serat receive (Rx)

  • Contoh: koneksi switch ke server.

C. Multi-Core Fiber Cable

  • Terdiri dari banyak serat (4, 8, 12, 24, 48, 96, 144 core, dst)

  • Digunakan untuk backbone atau distribusi besar


5. Berdasarkan Fitur Tambahan

A. Armored Fiber Cable

Memiliki lapisan baja sebagai pelindung.

Ciri:

  • Anti tikus

  • Anti tekanan dan kerusakan fisik

  • Cocok outdoor dan sewer/duct berat


B. Non-Armored Cable

Lebih ringan, digunakan untuk instalasi aman seperti indoor atau duct.


6. Berdasarkan Teknologi FTTH (Access Network)

A. Drop Cable

Digunakan dari ODP ke rumah pelanggan.

Ciri:

  • Diameter kecil

  • Lentur dan ringan

  • Serat biasanya single mode

B. Distribution Cable

Digunakan dari OLT → ODC → ODP.

C. Feeder Cable

Kabel kapasitas besar (24–144 core) dari sentral ke ODC.


Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik

Konsep Dasar Splicing dalam Komunikasi Optik   Gambar 428 Diagram Alur splicing dalam Komunikasi Optik Berikut penjelasan  Konsep Dasar Spli...