Tuesday, November 25, 2025

Subnet Mask Kelompok 4

 

Subnet Mask Kelompok 4

 Kelompok 4 : 

1. Arjuna Satria Prada M. (05)

2. Azzula Syakira (07)

3. Hany Nur Ristiawati (16)

4. Ismi Elvita Khairunnisa (19)

5. Jessica Cherlly Marcellina (20)



/ 27 pada blok ke IV


192.168.1.0  /27

11111111.11111111.11111111.11100000

255     .    255     .    255     .    224 


1. Jumlah subnet = 2^3

                            = 8


2. Jumlah host = 2^5

                        = 32 - 2

                        = 30


3. Blok subnet = 256 - 224

                        = 32


Berarti total ada 8 subnet dimulai dari 0, 32, 64, 96, 128, 160, 192, 224



I    192.168.1.0  -  192.168.1.31

II  192.168.1.32  -  192.168.1.63

III   192.168.1.64  -  192.168.1.95

IV   192.168.1.96  -  192.168.1.127



Cara mengerjakan : 

IV  192.168.1.96  -  192.168.1.127

        192.168.1.96      :  Subnet

        192.168.1.97      :  Host pertama

        192.168.1.126    :  Host terakhir

        192.168.1.127    :  Broadcast

Memahami prinsip kerja dan teknologi fiber optic.

 




1. Gambaran umum singkat

Fiber optic mentransmisikan informasi dengan pulsa cahaya yang merambat melalui inti (core) kaca atau plastik. Karena memakai cahaya, sistem ini menawarkan bandwidth sangat besar, latensi rendah, dan imun terhadap gangguan elektromagnetik.


2. Prinsip fisika dasar — Total Internal Reflection

  • Cahaya akan tetap dipandu dalam inti serat karena indeks bias inti (core) lebih tinggi daripada cladding.

  • Jika sudut datang relatif terhadap batas core–cladding lebih besar dari kritikal angle, maka cahaya dipantulkan penuh kembali ke dalam core — itulah total internal reflection.

  • Kondisi ini memungkinkan pulsa cahaya merambat jauh dengan sedikit keluar dari inti.


3. Mode transmisi — single-mode vs multi-mode

  • Single-mode (SMF): core kecil (~8–10 µm). Hanya satu mode (jalur gelombang) yang dominan → sangat sedikit modal dispersion → cocok jarak jauh dan kecepatan tinggi.

  • Multi-mode (MMF): core besar (50 atau 62.5 µm). Banyak mode cahaya merambat → terjadi modal dispersion (pulses menyebar) → membatasi jarak/kecepatan. MMF murah untuk jarak pendek.


4. Penyebab pemburukan sinyal (loss & distortion)

  1. Attenuation (redaman) — penurunan daya cahaya per satuan panjang (dB/km). Disebabkan oleh absorpsi material dan scattering (Rayleigh scattering pada panjang gelombang pendek).

  2. Dispersion (dispersi) — pelebaran pulsa cahaya sehingga simbol dapat saling tumpang tindih:

    • Modal dispersion (MMF) — perbedaan waktu tempuh antar mode.

    • Chromatic dispersion (SMF & MMF) — komponen spektrum cahaya merambat berbeda kecepatan.

    • Polarization mode dispersion (PMD) — perbedaan antar polarisasi (penting di kecepatan sangat tinggi).

  3. Connector & splice loss — kehilangan di konektor atau sambungan (disebabkan penyelarasan buruk, kotoran, permukaan tidak rata).

  4. Return loss / Fresnel reflection — pantulan balik pada ujung serat atau konektor yang dapat mengganggu pemancar.


5. Komponen sistem & cara kerjanya

  1. Transmitter

    • Mengubah sinyal listrik menjadi pulsa cahaya.

    • Perangkat: LED (umumnya MMF, jarak pendek) atau laser diode / DFB / VCSEL (SMF atau MMF berkecepatan tinggi).

  2. Kabel serat (fiber)

    • Struktur: core, cladding, buffer/coating, strength members, outer jacket.

    • Tipe pemasangan: loose-tube (outdoor), tight-buffered (indoor), armored, aerial, direct-burial.

  3. Connector & Adapter

    • Standard: LC, SC, ST, FC, MPO/MTP. Kebersihan dan alignment kritis.

  4. Splice

    • Fusion splice (melelehkan ujung) — loss rendah, andal.

    • Mechanical splice — mudah, sedikit lebih loss.

  5. Receiver

    • Photodiode (PIN atau APD) mengubah cahaya kembali menjadi sinyal listrik. APD lebih sensitif tetapi memerlukan bias lebih tinggi.

  6. Perangkat aktif & pasif tambahan

    • Optical amplifiers (EDFA, Raman) — menguatkan sinyal optik tanpa konversi ke listrik.

    • WDM (Wavelength Division Multiplexing) — gabungkan beberapa panjang gelombang pada satu serat (CWDM, DWDM).

    • Mux/Demux, OADM, ROADMs — untuk routing channel optik.

    • PON (Passive Optical Network): OLT → splitter pasif → ONT (FTTx).


6. Modulation & Multiplexing (mengisi kapasitas serat)

  1. Modulasi sederhana: on-off keying (OOK), NRZ, RZ — memvariasikan intensitas/format pulsa.

  2. Modulasi lanjutan: QPSK, QAM, PSK — digunakan dalam coherent optics untuk efisiensi spektral lebih tinggi.

  3. WDM (Wavelength Division Multiplexing)

    • CWDM (coarse) — kanal lebih jarang → murah, jangkauan metro.

    • DWDM (dense) — kanal rapat → kapasitas sangat besar (puluhan–ratusan channel).

  4. Space Division Multiplexing (SDM) — menggunakan banyak core atau banyak mode untuk meningkatkan kapasitas (research/advanced).


7. Amplifikasi optik & deteksi koheren

  • EDFA (Erbium-Doped Fiber Amplifier): populer di 1550 nm untuk long-haul; memperkuat sinyal optik langsung.

  • Raman amplifier: memanfaatkan efek Raman pada serat — dapat dipakai bersama EDFA.

  • Coherent detection: teknik di mana sinyal optik dikombinasikan dengan local oscillator lalu dideteksi secara koheren → memungkinkan modulasi fase/kompleks (QPSK, QAM) dan kompensasi dispersion digital pada receiver. Penting untuk kapasitas tinggi dan jarak jauh.


8. Access networks: PON & FTTH

  • PON (Passive Optical Network): satu port OLT dibagi secara pasif via splitter ke banyak pelanggan (ONT). Varian: EPON, GPON, XGS-PON, NG-PON2.

  • Kelebihan: efisien biaya di area berpenduduk, tanpa perangkat aktif di jalur distribusi.

  • Perhatikan: pembagian bandwidth dan perencanaan split ratio (1:16, 1:32, 1:64) berpengaruh pada performa.


9. Pengujian & monitoring

  • OTDR (Optical Time Domain Reflectometer): mengukur profil serat, lokasi splice/break, loss segment.

  • Power meter + light source: pengukuran loss end-to-end untuk verifikasi link.

  • VFL (Visual Fault Locator): laser visible untuk menemukan break atau bend dekat.

  • In-line monitoring & performance counters: BER, SNR, Rx power, per-channel power (pada WDM).


10. Perhitungan dasar — link budget (konsep)

Link budget memastikan sinyal di receiver cukup kuat:

Komponen:

  • P_tx = daya output transmitter (dBm)

  • L_fiber = attenuasi serat (dB/km) × panjang (km)

  • L_connector = total loss konektor & splice (dB)

  • P_rx = daya di receiver = P_tx - L_fiber - L_connector - margin

  • Receiver sensitivity = level minimum yang masih bisa mendeteksi (dBm)
    Syarat: P_rx ≥ receiver sensitivity

Contoh (konsep saja): jika P_tx = 0 dBm, receiver sensitivity = -28 dBm, connector loss = 2 dB, attenuasi = 0.35 dB/km, margin operasional = 3 dB → jarak ≈ (0 - (-28) - 2 - 3) / 0.35 ≈ 65 km (ilustrasi sederhana; angka dapat bervariasi menurut perangkat).


11. Keamanan & keselamatan kerja

  • Jangan melihat langsung ke ujung kabel yang aktif — laser tidak terlihat tetap berbahaya untuk mata.

  • Tangani serat sisa (fragmen kaca) dengan sarung tangan; buang dengan cara aman.

  • Gunakan goggles saat splicing/cleaving bila perlu.

  • Ikuti prosedur keselamatan saat bekerja di duct/tiang/lingkungan listrik.


12. Keunggulan & keterbatasan

Keunggulan

  • Bandwidth tinggi, latency rendah, imun EMI, jangkauan jauh, bobot ringan.

Keterbatasan

  • Biaya awal (perangkat, splicing), kebutuhan teknisi terlatih, serat rapuh terhadap tekukan ekstrim, alat pengukuran relatif mahal.


13. Tren & teknologi masa kini

  • Coherent optical systems untuk kapasitas tinggi (400G, 800G dan lebih).

  • Silicon photonics: integrasi komponen fotonik di chip silikon → mengurangi biaya modul optik.

  • Space Division Multiplexing (SDM): multi-core fiber / multi-mode advanced untuk skala kapasitas.

  • Automated/programmable optical networks (SDN-controlled optical layer & ROADM) untuk manajemen dinamis.

  • Peningkatan PON: XGS-PON, NG-PON2 untuk simetri up/down lebih tinggi.


14. Diagram sederhana (alur dari sinyal listrik → optik → listrik)

[ Perangkat Elektrik ] --elektrik--> [ Transmitter (laser/LED) ] → Pulsa cahaya → [ Fiber: core/cladding (splicing, WDM, amplifier) ] → Pulsa cahaya → [ Receiver (photodiode) ] --listrik--> [ Perangkat Elektrik ]


15. Rekomendasi praktis singkat

  • Untuk backbone/antara gedung → pakai Single-Mode OS2 + modul SFP/SFP+ SM pada panjang gelombang yang cocok (1310/1550 nm).

  • Untuk LAN/data center internal (jarak pendek) → pakai OM3/OM4 MMF + transceiver MM.

  • Selalu rencanakan link budget, dokumentasi kabel, label, dan simpan cadangan serat.

  • Lakukan pengujian end-to-end (power meter) dan OTDR untuk verifikasi setelah instalasi.

Memilih kabel fiber optic sesuai kebutuhan.

 




Memilih Kabel Fiber Optic Sesuai Kebutuhan

Pemilihan kabel fiber optic tidak bisa sembarangan. Kita harus menyesuaikan jenis kabel, jarak, kecepatan, teknologi perangkat, sampai lingkungan pemasangan. Berikut adalah panduan lengkap yang dapat dijadikan acuan.


🟩 1. Tentukan Kebutuhan Berdasarkan Jarak (Distance)

a. Single-Mode Fiber (SMF)

  • Cocok untuk jarak jauh: 2 km – 80 km (bahkan ratusan km).

  • Menggunakan laser sebagai sumber cahaya.

  • Core kecil: 8–10 µm.

  • Loss sangat rendah → sinyal stabil.

  • Dipakai untuk:

    • ISP/backbone

    • Gedung ke gedung

    • Metro Ethernet

    • Data center antar lokasi

b. Multi-Mode Fiber (MMF)

  • Cocok untuk jarak pendek: 10 m – 550 m.

  • Menggunakan LED sebagai pemancar.

  • Core lebih besar: 50–62.5 µm.

  • Lebih murah untuk jarak pendek.

  • Dipakai untuk:

    • Jaringan LAN

    • Ruangan ke ruangan

    • Rack Data Center internal


🟩 2. Tentukan Kebutuhan Berdasarkan Kecepatan (Bandwidth)

Setiap jenis fiber mendukung kecepatan yang berbeda.

Single-Mode (OS1/OS2)

TipeKecepatanJarak
OS11G – 10G10 km
OS210G – 100G+sampai 200 km

Multi-Mode (OM1–OM5)

TipeWarna KabelCoreKecepatanJarak Maks
OM1Orange62.5 µm1G275 m
OM2Orange50 µm1G550 m
OM3Aqua50 µm10G300 m
OM4Aqua50 µm40–100G150 m
OM5Lime50 µm100G – 400G (SWDM)150 m


🟩 3. Tentukan Lingkungan Pemasangan (Outdoor / Indoor)

Indoor Fiber

  • Lebih lentur

  • Tidak tahan air / UV

  • Digunakan dalam gedung, kantor, data center

Outdoor Fiber

  • Tahan air dan UV

  • Ada armored (berpelindung baja) untuk daerah berisiko

  • Digunakan untuk:

    • Tiang listrik

    • Tanah

    • Outdoor–to–indoor

Jenis Pelindung Outdoor

TipeKeterangan
ArmoredAda pelindung besi → aman dari gigitan tikus
Loose TubeAda gel pelindung → anti air
Aerial (ADSS)Untuk ditarik di tiang listrik


🟩 4. Sesuaikan Dengan Jenis Konektor

Konektor fiber berbeda-beda dan harus cocok dengan perangkat:

KonektorBentukKeterangan
LCkecil (mini)paling sering di switch modern
SCbesarumum pada ODF
STbulat, twistjarang digunakan
MPO/MTPmulti-coreuntuk 40G/100G/400G


🟩 5. Pertimbangkan Budget & Perangkat (Transceiver/SFP)

Fiber optic harus cocok dengan modul SFP/SFP+.

Contoh:

  • Jika modem/switch menggunakan SFP Single Mode 10G (1310 nm)
    → gunakan kabel Single Mode OS2.

  • Jika menggunakan SFP Multi Mode 850 nm
    → gunakan kabel OM3 / OM4.


🟩 6. Rekomendasi Pemilihan (Panduan Cepat)

Jarak < 100 m

Gunakan: MMF OM3/OM4 + SFP 10G MM (850 nm)

Jarak 100 m – 500 m

Gunakan: OM3/OM4
Untuk 1G/10G.

Jarak > 1 km

Wajib: Single Mode OS2

Antar gedung / backbone

Single Mode + SFP 1310/1550 nm

Dalam ruangan kantor

MMF OM2/OM3

Memahami jenis-jenis kabel fiber optic.

 



Memahami Jenis-Jenis Kabel Fiber Optic (Penjelasan Lengkap)

Kabel fiber optic adalah media transmisi berbahan kaca atau plastik yang membawa sinyal cahaya. Setiap jenis kabel memiliki struktur, fungsi, dan penggunaan yang berbeda tergantung lingkungan instalasinya (indoor, outdoor, underground, aerial, backbone, FTTH, dsb).

Secara umum, pembagian jenis kabel fiber optic dilihat dari:

  1. Jenis serat (single-mode / multi-mode)

  2. Struktur kabel (loose tube / tight buffered)

  3. Lingkungan pemasangan (indoor / outdoor / duct / direct burial / aerial)

  4. Konfigurasi serat (simplex / duplex / multi-core)

Mari kita bahas satu per satu secara rinci.


1. Berdasarkan Jenis Serat

A. Single-Mode Fiber (SMF)

  • Core: 8–10 µm

  • Warna jaket biasanya kuning

  • Menggunakan laser diode

  • Dibuat untuk jarak jauh (hingga ratusan km)

  • Kecepatan: 1G, 10G, 40G, 100G, 400G, dst

  • Loss sangat kecil (±0.2 dB/km)

Aplikasi: backbone ISP, metro, long-haul, FTTH (PON), data center jarak jauh.


B. Multi-Mode Fiber (MMF)

  • Core: 50 µm atau 62.5 µm

  • Warna jaket: oranye / aqua

  • Menggunakan LED atau VCSEL

  • Cocok untuk jarak pendek (< 550 meter)

  • Bandwidth terbatas karena modal dispersion

Jenis MMF modern:

  • OM1 → 62.5 µm (lama)

  • OM2 → 50 µm (LAN)

  • OM3 → 50 µm, mendukung 10G

  • OM4 → 50 µm, mendukung 40G/100G

  • OM5 → mendukung SWDM (wideband)

Aplikasi: LAN, kampus, data center lokal.


2. Berdasarkan Struktur Kabel

A. Loose Tube Fiber Cable

Serat berada dalam tabung longgar (loose tube) berisi gel atau dry core.

Ciri:

  • Tahan air, panas, dan lingkungan ekstrem

  • Biasanya untuk outdoor

Keuntungan:

  • Proteksi tinggi terhadap kelembapan

  • Ideal untuk jarak jauh dan area luar ruangan

Aplikasi: jaringan backbone, duct, underground.


B. Tight Buffered Fiber Cable

Serat diselimuti buffer ketat tanpa tabung longgar.

Ciri:

  • Mudah terminasi

  • Lentur dan cocok indoor

  • Tidak ada gel sehingga bersih saat pengerjaan

Aplikasi: gedung, riser, patch cord, peralatan rack.


3. Berdasarkan Lingkungan Pemasangan

A. Indoor Fiber Cable

Termasuk:

  • Simplex

  • Duplex

  • Riser cable

  • Plenum cable

  • Breakout cable

Ciri:

  • Lentur

  • Tidak tahan cuaca

  • Mudah diterminasi

Aplikasi: perangkat aktif, rack server, data center.


B. Outdoor Fiber Cable

Dibuat lebih kuat karena lingkungan luar lebih ekstrem.

1) Duct Cable

Dipasang di dalam pipa/duct.

Ciri:

  • Tidak perlu proteksi tambahan

  • Biasanya loose tube

2) Direct Burial Cable

Untuk ditanam langsung tanpa pipa.

Ciri:

  • Armored (ada lapisan baja)

  • Tahan gigitan hewan, tekanan tanah

3) Aerial Cable

Dipakai untuk jaringan udara (tiang listrik/telepon).

Jenis aerial:

  • ADSS (All-Dielectric Self-Supporting)
    → tidak mengandung logam, aman dari induksi listrik

  • Figure-8 Cable
    → memiliki kabel messenger baja


4. Berdasarkan Jumlah Inti Serat

A. Simplex

  • Hanya 1 serat

  • Digunakan untuk koneksi satu arah atau tunggal

  • Contoh: sensor optik, perangkat media converter.

B. Duplex

  • 2 serat dalam satu kabel

  • 1 serat transmit (Tx) + 1 serat receive (Rx)

  • Contoh: koneksi switch ke server.

C. Multi-Core Fiber Cable

  • Terdiri dari banyak serat (4, 8, 12, 24, 48, 96, 144 core, dst)

  • Digunakan untuk backbone atau distribusi besar


5. Berdasarkan Fitur Tambahan

A. Armored Fiber Cable

Memiliki lapisan baja sebagai pelindung.

Ciri:

  • Anti tikus

  • Anti tekanan dan kerusakan fisik

  • Cocok outdoor dan sewer/duct berat


B. Non-Armored Cable

Lebih ringan, digunakan untuk instalasi aman seperti indoor atau duct.


6. Berdasarkan Teknologi FTTH (Access Network)

A. Drop Cable

Digunakan dari ODP ke rumah pelanggan.

Ciri:

  • Diameter kecil

  • Lentur dan ringan

  • Serat biasanya single mode

B. Distribution Cable

Digunakan dari OLT → ODC → ODP.

C. Feeder Cable

Kabel kapasitas besar (24–144 core) dari sentral ke ODC.


Memahami jaringan fiber optic.

 


Apa itu jaringan fiber optic?

Jaringan fiber optic adalah sistem komunikasi yang menggunakan serat kaca (glass) atau plastik untuk mengirimkan sinyal cahaya sebagai media transmisi data. Berbeda dengan kabel tembaga yang memakai sinyal listrik, fiber memakai pulsa cahaya — sehingga mampu membawa data dalam jumlah sangat besar, dengan kecepatan tinggi, dan dengan kehilangan sinyal (attenuasi) yang relatif kecil pada jarak jauh.

Komponen utama sistem fiber optic

  1. Transmitter (pemancar)
    Mengubah sinyal listrik menjadi pulsa cahaya. Biasanya menggunakan LED (untuk multimode) atau laser diode/DFB (untuk single-mode).

  2. Kabel fiber (serat optik)

    • Core: inti kaca/plastik tempat cahaya merambat.

    • Cladding: lapisan di luar core dengan indeks bias sedikit lebih rendah untuk menjaga cahaya tetap terkunci (total internal reflection).

    • Coating/jacket: pelindung mekanis (buffer, strength members, outer jacket).

  3. Connector & Adapter
    Untuk menyambung kabel ke perangkat (mis. SC, LC, ST, FC). Penting untuk kebersihan dan penyelarasan.

  4. Splice (penyambungan permanen)

    • Fusion splice: menyambung dengan melelehkan ujung serat — kehilangan kecil, andal.

    • Mechanical splice: sambungan mekanis menggunakan ferrule — lebih mudah namun sedikit lebih besar loss.

  5. Receiver (penerima)
    Mengubah pulsa cahaya kembali menjadi sinyal listrik (photodiode, avalanche photodiode untuk sensitivitas tinggi).

  6. Perangkat tambahan

    • Optical Amplifier (EDFA, Raman) untuk memperkuat sinyal optik tanpa mengubahnya menjadi listrik.

    • Multiplexer/Demultiplexer (WDM/DWDM/CWDM) untuk membawa banyak channel pada panjang gelombang berbeda.

    • Optical Network Terminal (ONT) / Optical Line Terminal (OLT) pada jaringan PON (akses FTTH).

Jenis-jenis fiber optic

  1. Single-Mode Fiber (SMF)

    • Core sangat kecil (~8–10 µm).

    • Hanya satu mode cahaya → sangat sedikit dispersion → cocok untuk jarak jauh dan kecepatan tinggi (metro, long-haul).

  2. Multi-Mode Fiber (MMF)

    • Core lebih besar (50 µm atau 62.5 µm).

    • Banyak mode cahaya → modal dispersion → cocok untuk jarak pendek (LAN, kampus).

    • Tipe: OM1/OM2/OM3/OM4/OM5 (kelas bandwidth; OM3/OM4 untuk 10G/40G/100G pada jarak tertentu).

Prinsip kerja — secara sederhana

  1. Sinyal listrik (data) masuk ke transmitter.

  2. Transmitter mengubah sinyal menjadi pulsa cahaya (laser/LED).

  3. Cahaya melintas di dalam core kabel fiber → dipandu oleh prinsip total internal reflection karena perbedaan indeks bias core vs cladding.

  4. Cahaya diterima di receiver → diubah kembali menjadi sinyal listrik → diproses/dikirim ke perangkat tujuan.

Karakteristik teknis penting

  • Attenuation (laju redaman): dB/km; menunjukkan penurunan kekuatan sinyal. Nilai tipikal ~0.2–0.35 dB/km (SMF di 1550 nm sangat rendah).

  • Dispersion: penyebaran pulsa cahaya sepanjang waktu — dua tipe utama: modal (MMF) dan chromatic/polarization mode (SMF). Dispersion membatasi kecepatan dan jarak.

  • Bandwidth-distance product: untuk MMF menunjukkan kapasitas pada jarak tertentu.

  • Return Loss & ORL (Optical Return Loss): pantulan balik yang merugikan transmitter.

  • Link Budget: perhitungan ketersediaan (power budget) — transmitter power - total losses ≥ receiver sensitivity + margin.

Contoh perhitungan sederhana (link budget)

Misal:

  • Transmitter output = 0 dBm

  • Receiver sensitivity = -28 dBm

  • Loss konektor/splice total = 2 dB

  • Attenuasi serat = 0.35 dB/km

  • Margin operasional yang diinginkan = 3 dB

Maks jarak = (Tx - RxSens - konektor/splice - margin) / attenuasi
= (0 - (-28) - 2 - 3) / 0.35 = (28 - 5) / 0.35 = 23 / 0.35 ≈ 65.7 km

→ Jadi kira-kira 65 km tanpa amplifier (sederhana; dalam praktik perhitungan lebih detail: faktor connector, splice, ageing, safety margin).

Topologi jaringan fiber umum

  • Point-to-Point: langsung antara dua perangkat (mis. OLT ke core).

  • Ring: redundansi; lalu lintas bisa berputar lain arah saat ada gangguan.

  • Star: banyak node ke satu titik pusat (hub).

  • Passive Optical Network (PON): satu serat dari OLT dibagi pasif ke banyak ONT (FTTx — efisien untuk layanan broadband rumah).

Kelebihan dan kekurangan fiber optic

Kelebihan:

  • Bandwidth sangat tinggi (Gbps → Tbps dengan WDM).

  • Jarak jangkau jauh dengan loss rendah (terutama SMF).

  • Imun terhadap gangguan elektromagnetik (EMI) dan kebocoran sinyal.

  • Bobot dan ukuran kabel relatif ringan dibandingkan tembaga.

Kekurangan:

  • Biaya awal instalasi dan perangkat (laser, connector, alat splicing) lebih tinggi.

  • Pemasangan memerlukan tenaga terlatih; serat rapuh terhadap tekukan/ketegangan.

  • Peralatan pengukuran dan perbaikan (OTDR, fusion splicer) mahal.

  • Tidak menghantarkan daya (kecuali menggunakan kabel hybrid).

Instalasi dan praktik terbaik

  1. Perencanaan rute: hindari jalur berisiko (area berkonstruksi, proteksi mekanis).

  2. Minimum bend radius: jangan membengkokkan serat melebihi radius minimum (biasanya beberapa cm).

  3. Proteksi mekanis: gunakan duct, conduit, tray, atau armored cable bila perlu.

  4. Labeling & dokumentasi: catat konektor, panel, nomor serat, splice, dan skematik jaringan.

  5. Kebersihan konektor: debu/kotoran menyebabkan loss besar — bersihkan dengan wipes khusus atau alcohol isopropyl.

  6. Splicing yang benar: fusion splice lebih baik untuk kehilangan rendah; lindungi splice dengan heat-shrink splice protector.

Pengujian & alat penting

  • OTDR (Optical Time Domain Reflectometer): memetakan panjang serat, lokasi splice/kerusakan, mengukur loss per segment.

  • Power meter dan light source: untuk mengukur power loss end-to-end (link loss) — sangat penting untuk verifikasi.

  • Visual Fault Locator (VFL): laser visible (red) untuk mendeteksi break atau bad bend di jarak pendek.

  • Microscope untuk connector: memeriksa kebersihan ujung serat.

Troubleshooting dasar

  1. Periksa konektor (bersihkan dan cek seating).

  2. Gunakan VFL untuk deteksi putus pada jarak dekat.

  3. OTDR untuk mengetahui lokasi splice/break dan loss.

  4. Periksa dokumentasi: apakah ada perubahan rute atau pekerjaan di jalur?

  5. Periksa peralatan aktif (transmitter/receiver) — cek LED, power, dan parameter modul SFP/optical transceiver.

  6. Ganti komponen satu per satu (mis. swap SFP) untuk isolasi masalah.

Keamanan & keselamatan

  • Jangan melihat langsung ke ujung kabel fiber yang menyala (laser) — dapat merusak mata.

  • Tangani serat sisa (fragmen kaca) dengan hati-hati — dapat menancap pada kulit. Buang sisa serat sesuai prosedur.

  • Gunakan alat pelindung dan prosedur kerja aman saat fusion splicing.

Tren & teknologi terkait (konsep singkat)

  • DWDM/CWDM: memungkinkan banyak channel berbeda pada satu serat — meningkatkan kapasitas.

  • Fiber to the Home (FTTH/PON): akses broadband rumah melalui PON.

  • Coherent optics: modulasi canggih untuk peningkatan kapasitas dan jarak pada long-haul.

  • SDN & optical control planes: otomatisasi dan manajemen jaringan optik untuk routing dinamis.

Contoh penggunaan nyata

  • Backbone ISP / transmisi antar kota (long-haul).

  • Metro networks (menghubungkan kantor/gedung).

  • FTTH untuk pelanggan rumah.

  • Data center interconnect (DCI) untuk menghubungkan pusat data.

  • Industri dan militer untuk komunikasi aman dan bebas EMI.

Glosarium singkat

  • dB/km: desibel per kilometer, satuan redaman.

  • SFP / SFP+ / QSFP: modul transceiver optik untuk perangkat jaringan.

  • OTDR: alat diagnostik serat.

  • PON: Passive Optical Network.

  • EDFA: Erbium-Doped Fiber Amplifier.



Perhitungan VLSM untuk Jaringan 192.168.10.0/25

 

  • Subnet A = 60 host

  • Subnet B = 24 host

  • Subnet C = 12 host

  • Subnet D = 5 host

Langkah-langkah pendek (alur perhitungan) lalu hasil lengkap dan diagram visual ASCII.


1) Prinsip dan rumus singkat

  • Untuk n bit host, total alamat = 2n2^n. Usable host = 2n22^n - 2 (network + broadcast dikurangi), kecuali untuk subnet khusus (di sini pakai aturan umum).

  • Prefix = 32n32 - n.

  • Alokasikan subnet terbesar dulu (greedy) lalu turun ke yang lebih kecil.


2) Hitung kebutuhan tiap subnet (digit-by-digit)

Subnet A — butuh 60 host

  • Coba n = 5 → 25=322^5 = 32 → usable 322=3032 - 2 = 30tidak cukup.

  • Coba n = 6 → 26=642^6 = 64 → usable 642=6264 - 2 = 62cukup.
    → prefix = 326=/2632 - 6 = /26. (/26 → 64 alamat, 62 usable)

Subnet B — butuh 24 host

  • n = 4 → 24=162^4 = 16 → usable 14 → tidak cukup.

  • n = 5 → 25=322^5 = 32 → usable 30 → cukup.
    → prefix = 325=/2732 - 5 = /27. (/27 → 32 alamat, 30 usable)

Subnet C — butuh 12 host

  • n = 3 → 23=82^3 = 8 → usable 6 → tidak cukup.

  • n = 4 → 24=162^4 = 16 → usable 14 → cukup.
    → prefix = /28 (16 alamat, 14 usable)

Subnet D — butuh 5 host

  • n = 2 → 22=42^2 = 4 → usable 2 → tidak cukup.

  • n = 3 → 23=82^3 = 8 → usable 6 → cukup.
    → prefix = /29 (8 alamat, 6 usable)


3) Mulai alokasi dari awal network (192.168.10.0/25) — terbesar dulu

Network dasar: 192.168.10.0/25 → alamat dari .0 sampai .127 (128 alamat total).

Alokasi (urutan): A → B → C → D

  1. Subnet A (60 host) — pakai /26

    • Network: 192.168.10.0/26

    • Alamat: 192.168.10.0 – 192.168.10.63 (64 alamat)

    • Usable host: 192.168.10.1 – 192.168.10.62 (62 alamat)

    • Broadcast: 192.168.10.63

    • Gateway biasa: 192.168.10.1 (pilihan)

  2. Sisa setelah A: mulai dari .64 – .127 (masih 64 alamat)

    Subnet B (24 host) — pakai /27

    • Network: 192.168.10.64/27

    • Alamat: 192.168.10.64 – 192.168.10.95 (32 alamat)

    • Usable host: 192.168.10.65 – 192.168.10.94 (30 alamat)

    • Broadcast: 192.168.10.95

    • Gateway biasa: 192.168.10.65

  3. Sisa setelah B: mulai dari .96 – .127 (32 alamat)

    Subnet C (12 host) — pakai /28

    • Network: 192.168.10.96/28

    • Alamat: 192.168.10.96 – 192.168.10.111 (16 alamat)

    • Usable host: 192.168.10.97 – 192.168.10.110 (14 alamat)

    • Broadcast: 192.168.10.111

    • Gateway biasa: 192.168.10.97




  4. Sisa setelah C: mulai dari .112 – .127 (16 alamat)

    Subnet D (5 host) — pakai /29 (ditempatkan dalam blok .112–.127)

    • Network: 192.168.10.112/29

    • Alamat: 192.168.10.112 – 192.168.10.119 (8 alamat)

    • Usable host: 192.168.10.113 – 192.168.10.118 (6 alamat)

    • Broadcast: 192.168.10.119

    • Gateway biasa: 192.168.10.113

    Sisa cadangan (spare): 192.168.10.120/29 (8 alamat: .120–.127) — bisa dipakai untuk subnet kecil lain atau cadangan.


    4) Ringkasan tabel alokasi

    +---------+-----------+---------------------------+----------------------+----------+

    | Subnet  | Prefix    | Network Range             | Usable Hosts         | Broadcast|

    +---------+-----------+---------------------------+----------------------+----------+

    | A       | /26      | 192.168.10.0  - 192.168.10.63   | 192.168.10.1  - .62  | .63      |

    |         |          | (64 alamat, 62 usable)    |                      |          |

    +---------+-----------+---------------------------+----------------------+----------+

    | B       | /27      | 192.168.10.64 - 192.168.10.95  | 192.168.10.65 - .94 | .95      |

    |         |          | (32 alamat, 30 usable)    |                      |          |

    +---------+-----------+---------------------------+----------------------+----------+

    | C       | /28      | 192.168.10.96 - 192.168.10.111 | 192.168.10.97 - .110| .111     |

    |         |          | (16 alamat, 14 usable)    |                      |          |

    +---------+-----------+---------------------------+----------------------+----------+

    | D       | /29      | 192.168.10.112 - 192.168.10.119|192.168.10.113 - .118| .119     |

    |         |          | (8 alamat, 6 usable)      |                      |          |

    +---------+-----------+---------------------------+----------------------+----------+

    | Spare   | /29      | 192.168.10.120 - 192.168.10.127|192.168.10.121 - .126| .127     |

    +---------+-----------+---------------------------+----------------------+----------+


    5) Diagram visual (ASCII) — alur pembagian VLSM

    192.168.10.0/25  (total .0 - .127)

    |

    +-- 192.168.10.0/26   (A: 60 host)         .0 -------------- .63

    |     Network: 192.168.10.0

    |     Usable:  .1 - .62

    |     Broadcast: .63

    |

    +-- 192.168.10.64/27  (B: 24 host)         .64 ----------- .95

    |     Network: 192.168.10.64

    |     Usable:  .65 - .94

    |     Broadcast: .95

    |

    +-- 192.168.10.96/27  (split for C & D)   .96 ----------- .127

          |

          +-- 192.168.10.96/28  (C: 12 host)   .96 - .111

          |     Usable: .97 - .110

          |     Broadcast: .111

          |

          +-- 192.168.10.112/28 (remaining)   .112 - .127

                |

                +-- 192.168.10.112/29 (D: 5 host) .112 - .119

                |     Usable: .113 - .118

                |     Broadcast: .119

                |

                +-- 192.168.10.120/29 (Spare)    .120 - .127

                      Usable: .121 - .126

                      Broadcast: .127


    6)Tips operasional / gateway dan pemakaian

    • Biasakan gateway = alamat pertama usable (mis. .1, .65, .97, .113) — konsisten dan mudah di-manage.

    • Catat setiap broadcast dan network address agar tidak digunakan pada host.

    • Simpan cadangan (/29 di .120/29) untuk pertumbuhan kecil atau manajemen (printer, management VLAN, dsb).

    Tips operasional / gateway dan pemakaian

    • Biasakan gateway = alamat pertama usable (mis. .1, .65, .97, .113) — konsisten dan mudah di-manage.

    • Catat setiap broadcast dan network address agar tidak digunakan pada host.

    • Simpan cadangan (/29 di .120/29) untuk pertumbuhan kecil atau manajemen (printer, management VLAN, dsb).